Work Hard, not Work Smart
Saya adalah satu dari sedikit yang menyatakan ketidaksukaan terhadap jargon “Smart Work”. Mengapa? karena menurut saya dalam hidup ini kita haruslah bekerja keras, baik bagi mereka yang berpendidikan tinggi maupun yang kurang beruntung mengenyam pendidikan formal.
Saya teringat dengan pesan Ayahanda saya (alm) ketika saya masih duduk di bangku SD kelas 6, beliau melihat bahwa saya adalah anak yang cerdas (maaf bukan narsis) namun sangat pemalas, sehingga saya selalu terancam tidak naik kelas ketika pembagian raport. Nilai-nilai saya 70% merah, ranking saya selalu tak beranjak dari 5 besar terbawah. Saya bahkan nyaris tak bisa berhitung dan menulis dengan benar.
Beliau mengatakan “Ayah lebih senang anak yang rajin daripada anak yang pintar. Anak yang rajin dapat dengan mudah menjadi pintar dengan rajin belajar, tapi anak yang sekedar pintar biasanya malas belajar lagi”. Mulanya saya tak mengerti apa maksud beliau. Tapi yang saya tahu adalah bahwa beliau sangat prihatin dengan prestasi saya di sekolah.
Ketika SMP mulailah saya senang belajar dan membaca karena saya bersekolah di SMP yang cukup jauh dari rumah, sehingga saya tak punya teman bermain. Hasilnya saya selalu menduduki ranking 5 besar, dan meraih penghargaan sebagai satu dari 10 siswa dengan NEM terbesar di akhir masa belajar di SMP.
Dan pesan Ayah selalu saya pegang teguh hingga sekarang, dan saya berprinsip kita tak akan bisa berkembang dalam bisnis dan karir jika hanya bekerja pintar. kita haruslah juga bekerja keras. Jika ingin sukses, bekerjalah 14 jam sehari.
Work Hard, not Work Smart!
Popularity: 3% [?]
About this entry
You’re currently reading “Work Hard, not Work Smart,” an entry on www.triaji.net/blog
- Published:
- 20.09.07 / 9am
- Category:
- Personal






4 Comments
Jump to comment form | comments rss [?]