Robby Djohan

Hari Sabtu kemarin, saya mengikuti seminar/ kuliah singkat dengan pembicara Robby Djohan, dengan tema “Leading in Crisis – The Man Behind the Mega Merger” di Auditorium SBM-ITB. Kebetulan saya adalah penggemar Robby Djohan, dan saya selalu mengikuti sepak terjangnya setelah beliau berhasil menerbangkan kembali GARUDA INDONESIA, dan merger sensasional Bank Mandiri, dari yang semula hampir bangkrut menjadi menguntungkan.

Seminar ini –yang sebetulnya lebih menjurus pada leadership- sangat hangat dan berkesan, diselingi dengan humor-humor segar di sela-sela materi, cerita, tips, dan pemeo-pemeo. Di sini Robby Djohan menunjukkan pentingnya kepemimpinan dalam suatu organisasi, tanpa pemimpin yang memiliki integritas, ilmu, kepercayaan, dan visi, dapat dipastikan sebuah organisasi sedang menuju ke jurang kehancurannya sendiri.

Dengan wawasan yang luas, pengalaman dan pengetahuan yang mumpuni, Robby Djohan merupakan sosok fenomenal yang terkenal keras, “raja tega”, namun sekaligus juga sangat peduli terhadap bangsa ini. Terbukti seluruh hasil penjualan karya ciptanya berupa buku-buku kepemimpinan yang best seller disumbangkan untuk pendidikan.

Bagaimana menjadi seorang pemimpin yang hebat? Bukan pemimpin yang baik atau sekedar bagus? Robby menekankan bahwa seseorang yang menghargai waktu akan menghargai segalanya, dan orang yang tidak menghargai waktu adalah orang yang tak berguna.

Karakter pemimpin dibentuk dari tiga unsur, yaitu integritas, skill, dan kepercayaan dari pengikutnya. Tanpa ketiga, atau salah satu unsur ini, seorang pemimpin tak akan mendapatkan dukungan penuh dari semua pihak.

Pemeo terkenal Robby Djohan adalah: Knowledge is power, but character is more.

Popularity: 4% [?]


About this entry