Mengkritik Pengkritik

Hari Minggu kemarin, ketika iseng baca koran Kompas, seperti biasa yang saya cari adalah komik strip Panji Koming yang merupakan kebiasaan sebelum membaca yang berat-berat.
Biasanya saya tersenyum selesai menilik-nilik, tokoh siapakah yang mirip dengan pamong, tapi ternyata tidak ada yang dimiripkan Dwi Koen kali itu. Selesai membaca dialognya, saya agak sedikit tidak setuju dengan generalisasi atas pernyataan “Yang kelihatannya baik biasanya buruk!”…
Hmmm, apa bedanya dengan “Yang kelihatan buruk biasanya baik!”. Bukankah lebih baik Dwi Koen menulis “Yang kelihatan baik tak selamanya baik” dan vice versa.
Jadi maksud Dwi Koen mungkin; wanita-wanita berjilbab dan terjaga kehormatannya, yang mendukung disahkannya RUU P&P adalah wanita jalang, dan sebaliknya, para penjaja seks dengan rok mini adalah suci?
Kali ini saya hanya geleng-geleng kepala betapa sempitnya wawasan Dwi Koen kali ini. Semoga dia hanya khilaf, atau saya yang salah menginterpretasikan komiknya

Sepertinya interpretasinya salah deh. Kalau menurut saya, komik itu berusaha mengritik DPR dan para pamong di pemerintahan yang sibuk ngurusin hal-hal yang menurut mereka baik tetapi ternyata mereka tidak bisa berkaca pada diri sendiri.
Di satu sisi mereka bicara layaknya orang suci (yang mencoba melarang pornografi, pornoaksi, kebejatan moral, dll.), tetapi di sisi lain mereka tak punya malu membela kepentingan perut sendiri (menaikkan tunjangan dan gaji mereka sementara di sisi lain setuju untuk memotong subsidi rakyat, membiarkan korupsi tetap terjadi, dll.).
Saya nggak melihat ada tendensi Dwi Koen (baik eksplisit maupun implisit) menilai bahwa wanita-wanita berjilbab dan terjaga kehormatannya, yang mendukung disahkannya RUU P&P adalah wanita jalang, dan sebaliknya, para penjaja seks dengan rok mini adalah suci.
ya, saya harap demikian