Say No To XL!

Di tengah semakin tingginya inflasi dalam negeri, sudah seharusnya kita sebagai warga negara yang baik mulai mengurangi konsumsi produk/jasa yang dapat mengakibatkan tersedotnya devisa negara ke luar negeri. Contohnya adalah penggunaan sistem telekomunikasi dari perusahaan modal asing (PMA) seperti XL. Keterangan dapat dilihat di sini.
Jadi, say no to XL! cintai produk dalam negeri!
November 15th, 2005 in
Indonesiana, Telecommunications

perasaan semua telco gede udah milik asing deh, klo yg bener2 milik indo asli, pas tender ulang 3G malah dicekal, yg asing malah dikasih licence, itulah indonesia, emang brengsek sich
Soalnya Menkominfonya orang politik, bukan profesional telekomunikasi
wah kalo indo kaya gini parah de…
mau makan apa….
buktinya sekarang banyak perusahaan yg pake tenaga asing
makanya gaji indo itu di gedein… biar orang pintar2 ga pada lari ke luar negri
indo negara yg kurang aman sihhhhh
kenapa masi ada perbedaan ras segala…
siapa yg memulaiiiii?????
indo kalo begini terus ga akan maju2 n terus dibodohin
begitu tanggapan saya
waduh…….
musti gmana lagi yach, kalo udah masuk si-XL yach dibiarin aza. lagian masyarakat ekonomi menengah kebawah udah nggak mau tuh (itu menurut pendapat sy lho). Paling2 jg petinggi2, executive muda, bissnisman (karena org tersebut tahu tentang mamfaat si-XL).
Kalo memang mau maju negara RI dan rakyat mau mencintai produk dalam negeri dan menendang si-XL tersebut yach harus betul2 berkorban (jgn setengah2 dalam melakukan pembangunan, itupun pembangunannya masih dipusatkan di Pulau Jawa baik dari segi Telekomunikasi dan pembangunan lainnya. Kapan ke Pulau lainnya pak…… (katanya Indonesia terdiri dari beribu pulau, yach ditunjukin donk pembangunannya tersebut khususnya telekomunikasi)?
::: peace :::
Susah memang.. Telkomsel 35 persen sahamnya juga dikuasasi SingTel, Indosat > 41 persen dikuasi STT (yang juga punyanya SingTel).. Inilah bedanya orang Indonesia dgn tetangga. Coba lihat dan belajar dari TM, mereka profesional dengan saham negara > 43 persen dikuasai goverment. Kalau mau jadi pilihan rakyat, kuasai saham terbesar dan BE PROFFESIONAL dalam melayani.. jangan bermental birokrat..
XL memang termasuk tinggi bea nya dibanding provider lainnya , dan juga jarang promosi alias kasih hadiah kepada pelanggannya, terutama kepada pelanggan setia yang sudah lama menggunakan jasanya, mungkin aja sekarang mgmt. XL sedang berpikir balik supaya pelanggan lama tidak beralih ke lainnya bagaimana caranya …. tapi mimpi kali yee … …dari pelanggan lama XL ….
Indonesia perlu meniru Reopublik BBm kali… kita pilih Menteri Informasi dan Telekomunikasi (Men Makasi) yang baru
Operatornya GSM Indo setahu saya sebagian sahamnya memang sudah dimiliki oleh asing, ke 3 GSM operator paling atas tidak ada yang betul-betul 100% dalam negeri . Untuk XL kepemilikan saat ini yang terbesar dimiliki oleh Indocel, TM, A TM Company. Dan yang kedua besar adalah Khazanah, juga dari Malaysia. Sejak tahun 2005 akhir XL sudah menjadi perusahaan publik, sebagian dari saham tersebut dimiliki oleh publik secara bebas, sebagian karyawan dan pihak lainnya.
Perlu diketahui juga dengan suntikan dana yang signifikan, pelanggan XL telah meningkat 84% dibanding tahun sebelumnya, disertai dengan penambahan hampir 2 kali lipat BTS. Tanpa dana segar dari luar tersebut akan mustahil bagi operator swasta untuk mempertahankan posisi.
Tolong jawab pertanyaan di bawah ini:
1. Sebutkan perusahaan yang mayoritas dikuasai pribumi dan berkembang sehat (sehat = memiliki cash flow yang besar, produk yang menguasai pasar, punya visi yang jauh ke depan)
2. Terlepas dari nasionalisme, tolong Anda pilih kondisi di bawah ini:
2.a. Perusahaan “dipaksakan/dipertahankan” tidak dijual ke pemodal asing/joint venture, sehingga perusahaan tidak punya modal usaha cukup, walhasil kurang berkembang, inovasi tidak ada, produk gak laku, akhirnya ditutup, PHK ribuan orang
2.b. Perusahaan dibeli oleh pihak asing. Dapat suntikan dana besar, perusahaan bisa leluasa berkembang (beriklan, inovasi produk). Perusahaan semakin besar, pendapatannya meningkat, buka cabang di mana-mana, rekrut karyawan baru, buka lapangan pekerjaan.
Tolong jawab yang jujur, SECARA REALISTIS. Kalau memang bumiputera tidak mampu, kenapa mesti dipaksakan? Itu nasionalisme sempit namanya.
XL masih beruntung karena dimiliki oleh asing tapi “serumpun”, yaitu bangsa Melayu. Sama-sama ngerti bahasa melayu, sama-sama punya kebudayaan yang mirip. Hayooo…
Dan betul kata arantan, XL sekarang pelanggannya makin banyak (kabarnya udah 8 juta lebih), bandingkan dengan sebelumnya yang gak jauh-jauh dari angka 4 juta. Duitnya makin banyak kan, dan bisa rekrut karyawan makin banyak sekarang, di kantor-kantor regionalnya.
1. Mustika Ratu
2.b. Dengan pembatasan modal asing 49%, publik dan pemerintah 51% agar dana tidak kabur keluar negeri jika terjadi rush ekonomi
Seperti kata Mahathir Muhammad; ‘Ekonomi tanpa nasionalisme adalah korban globalisasi dan kapitalisasi yang akan menyengsarakan rakyat’.
Serumpun tidak berarti satu mata uang, berbeda mata uang berarti disparitas, proteksi, kesenjangan kesejahteraan.
ahhh ngga ada hubungannya kali….aku pengguna XL sejak tahun 2000 jadi kenapa say no to XL….ngga sampai seexstrim itu lah dalam mendefinisikan kata kata cintai produk dalam negri….kita banyak kok menggunakan produk luar negri…
celana panjang itu hasil produk luar
loe nonton bioskop juga produk luar
Makanya jangan bersikap konsumtif. Konsumerisme adalah pangkal kemiskinan.
Jika ada substitusi yang lebih nasionalis, kenapa harus pakai produk asing?
serius lo ga konsumtif?
Maksudnya mungkin over-konsumtif kali ya?
Dari pada boikot-boikotan, mending kita rame-rame rebut sahamnya XL.
Regards.
http://pulsa.web.id
gue cinta indo hidup indo mampus malasiya